SEORANG LELAKI DENGAN MORBUS HANSEN TIPE BORDERLINE TUBERKULOID DISERTAI CACAT KUSTA TINGKAT 2

Isi Artikel Utama

Stefani Nurhadi

Abstrak

Morbus hansen (MH) atau kusta adalah penyakit granulomatus kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini dapat menyebabkan kecacatan dan disabilitas yang signifikan pada penderita. Faktor resiko kusta meliputi kerentanan genetik, paparan lingkungan, serta faktor sosial dan ekonomi. Diagnosis dan klasifikasi kusta didasarkan pada tanda klinis, pemeriksaan kulit, dan histopatologi. Cacat yang timbul pada kusta dapat terjadi akibat infiltrasi basil pada kulit dan saraf, serta akibat reaksi kusta berupa neuritis akut. Pencegahan dan perawatan cacat tangan dan kaki perlu dilakukan secara dini dan melibatkan perawatan mandiri oleh penderita.


Telah dilaporkan sebuah kasus MH tipe BT pada seorang laki-laki usia 29 tahun yang disertai dengan cacat kusta tingkat 2 berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan yang diberikan dari bagian kulit dan kelamin adalah multi drug treatment (MDT) multi basiler (MB) paket I dan vitamin B1 B6 B12 serta konsul bagian rehabilitasi medis diberikan stimulasi otot intrinsik tangan, latihan range of movement (ROM), pergerakan dan fungsional tangan.


Penanganan kusta bertujuan untuk memutus rantai penularan, menyembuhkan penderita, dan mencegah terjadinya cacat. Program pemberantasan kusta melibatkan pengobatan dengan rejimen multi-drug treatment (MDT) yang disesuaikan dengan tipe penyakit. Pencegahan dan perawatan cacat pada kusta melibatkan latihan fisik, perlindungan tangan dan kaki, serta perawatan luka dan kulit. Penderita kusta juga perlu memahami pentingnya merawat diri sendiri dan menghindari faktor risiko yang dapat memperburuk kondisi.


Kusta merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan dan disabilitas yang signifikan. Pencegahan dan perawatan cacat pada kusta memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup penderita. Program pemberantasan kusta yang melibatkan pengobatan MDT telah terbukti efektif dalam mengurangi insiden penyakit. Perawatan mandiri oleh penderita melalui latihan fisik, perlindungan tangan dan kaki, serta perawatan luka dan kulit dapat membantu mencegah terjadinya cacat yang lebih parah. Dengan pendekatan yang holistik dan komprehensif, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif kusta pada penderita dan masyarakat secara keseluruhan.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Nurhadi, S. (2023). SEORANG LELAKI DENGAN MORBUS HANSEN TIPE BORDERLINE TUBERKULOID DISERTAI CACAT KUSTA TINGKAT 2. Prominentia Medical Journal, 4(2), 17–30. https://doi.org/10.37715/pmj.v4i2.4027
Bagian
Articles

Referensi

Thorat, M.D., Sharma P. 2010. Epidemiology. In: IAL Textbook of Leprosy. 1st ed. India: Jaypee Brothers Medical Publishers; 24-31.

Amirudin, M.D., Hakim, Z., Darwis, E. 2003. Diagnosis penyakit kusta. In: Kusta. 2nd ed. Jakarta: Balai penerbit FKUI; 12-32.

Mishra, R.S., Kumar J. 2010. Classification. In: IAL Textbook of Leprosy. 1st ed. India: Jaypee Brothers Medical Publishers; 144-51.

Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jendral Kementerian Kesehatan RI. 2015. Menkes canangkan resolusi Jakarta guna hilangkan stigma dan diskriminasi kusta. Indonesia: Depkes.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2015. Infodatin Kusta. Indonesia. 1-7.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2013. Profil kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2012. Indonesia: Dinkes Jatim.1-18.

Dinas Kesehatan Provinsi Bali. 2014. Profil kesehatan Provinsi Bali tahun 2013. Indonesia: Dinkes Bali.1-24.

Wisnu, I.M., Hadilukito, G. 2003. Pencegahan cacat kusta. In: Kusta. Indonesia: Balai Penerbit FK UI, 2003; 83-93.

Lee, D.J., Rea, T.H., Modlin, R.L. 2008. Leprosy. In: Wolff, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th ed. New York: Mc Graw Hill companies; 1786-96.

Kumar, B., Dogra, S.. 2010. Case definition and clinical types. In: IAL Textbook of Leprosy. 1st ed. India: Jaypee Brothers Medical Publishers; 152-66.

Weedon, D. 2010. Bacterial and rickettsial infections. In: Weedon’s Skin Pathology. 3rd ed. United Kingdom: Churchill Livingstone Elsevier; 548-72.

Susanto, N. 2006. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecacatan penderita kusta. [Master's thesis]. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada; 2006.

Shah N, Shah A. 2010. Deformities of face, hands and feet, and their management. In: IAL Textbook of Leprosy. 1st ed. India: Jaypee Brothers Medical Publishers, 2010; 424-46.

Shetty, V.P. 2010. Pathomechanisms of nerve damage. In: IAL Textbook of Leprosy. 1st ed. India: Jaypee Brothers Medical Publishers; 237-45.

Shah, N. 2012. Working towards a leprosy free world providing comprehensive care. India: Novartis; 1-19.

Putra, IB. 2008. Pencegahan kecacatan pada tangan penderita kusta. Indonesia: USU e-Repository; 2008. 1-13.

Gopal, P.K. 2010. Aspek psikososial. In: IAL Textbook of Leprosy. 1st ed. India: Jaypee Brothers Medical Publishers; 560-4.

Soebono H, Suhariyono B. 2003. Pengobatan penyakit kusta. In: Kusta. Indonesia: Balai Penerbit FK UI; 66-74.

Malaviya, G.N. 2010. Deformity/ disability prevention. In: IAL Textbook of Leprosy. 1st ed. India: Jaypee Brothers Medical Publishers; 447-66.

Nuhonni, S.A., Cholis, M. 2003. Rehabilitasi medik I. In: Kusta. Indonesia: Balai Penerbit FK UI, 2003; 94-103.

Smith, D.S. Leprosy follow-up. Medscape. July 22, 2014. Available from: http://www.medscape.com