LESS COMMON COVID-19 SYMPTOMS, ANOSMIA AND DYSGEUSIA

  • Olivia Tantana
Keywords: COVID-19, anosmia, disgeusia, hilang penciuman, coronavirus

Abstract

Hilang penciuman (anosmia) dan penurunan indra perasa (disgeusia) merupakan gejala ringan dari penderita COVID-19. Berdasarkan beberapa penelitian, angka kekerapan anosmia dan disgeusia cukup beragam sekitar 30-85,6%, lebih sering terjadi pada dewasa muda dan wanita. Infeksi COVID-19 terjadi melalui partikel yang dihirup seukuran droplet dan aerosol atau melalui inokulasi langsung pada epitel respiratori atau rute okularmelalui duktus nasolacrimal. Anosmia dan disgeusia didefinisikan sebagai berkurangnya kemampuan untuk menghirup bau (penciuman orthonasal) atau makan (penciuman retronasal). Pada pasien dengan COVID-19 menggambarkan rasa yang berubah, gejala ini lebih dikaitkan dengan gangguan penciuman retronasal (aroma) daripada gangguan gustatori (manis, asin, asam, pahit). Oleh karena itu, diperkirakan bahwa gangguan kemosensori pada COVID-19 adalah gangguan penciuman orthonasal dan retronasal. Penyebab anosmia dan disgeusia pada COVID-19 masih menjadi perdebatan, secara garis besar disebabkan oleh, edema lokal pada celah olfaktori, deformitas anatomi neuroepithel olfaktori, neuroinvasi langsung pada jalur saraf olfaktori. Menurut The Centers for Disease Control and Prevention (CDC), “new loss of taste or smell” kemungkinan muncul 2 hingga 14 hari setelah paparan COVID-19. Keluhan anosmia dan disgeusia, tanpa penyakit pernapasan lainnya seperti rinitis alergi, rinosinusitis akut, atau rinosinusitis kronis harus dicurigai mengarah pada infeksi COVID-19 dan dilakukan pemeriksaan sesuai alur COVID-19. Pada beberapa kasus diawali dengan rinitis akut selama 2-3 hari selanjutnya setelah keluhan tersebut menghilang timbul anosmia dan disgeusia. Pada pasien dapat dilakukan uji alkohol untuk mengetahui fungsi jalur ortonasal dan uji penghidu intravena menggunakan fursultiamine HCl untuk fungsi jalur retronasal. Terapi yang diberikan merupakan kombinasi dari antivirus, anti bakteri sebagai terapi utama diberikan bersama terapi simtomatik, penggunaan cuci hidung menggunakan larutan NaCl 0.9%, kortikosteroid intranasal, dekongestan topikal, dan preparat zinc. Indera penciuman biasanya mulai pulih setelah 5-10 hari dan pemulihan lengkap pada beberapa pasien sekitar 10-15 hari.
Published
2022-02-19