REVIEW OF COVID-19 CLINICAL MANIFESTATION HOW TO DIAGNOSE EARLY AND TREAT PROMPTLY

  • Florence Pribadi
Keywords: COVID-19, manifestasi ekstra pulmonal, manifestasi klinis

Abstract

Seiring berjalannya waktu, gejala klinis COVID-19 yang dilaporkan berkembang dari gejala utama demam, batuk dan pneumonia. Gejala ekstra pulmonal yang juga sering dilaporkan adalah diare, dysgeusia, hyposmia hingga anosmia, konjungtivitis, serta berbagai manifestasi pada kulit, yang paling umum berupa lesi makulo-papular exanthema serta chilblain like skin lesion yang dikenal juga sebagai Covid toes. Laporan kasus mengenai manifestasi klinis COVID-19 makin beragam seiring dengan pelaporan ekspresi reseptor ACE2 pada sistem vaskuler, digstivus, urinaria, dan saraf. Mengingat luasnya manifestasi klinis penyakit ini, maka diperlukan informasi lebih lanjut mengenai manifestasi klinis dan progresivitas penyakit. Terdapat pembaruan kriteria diagnosis dan definisi operasional kasus berdasarkan pedoman pencegahan dan pengendalian COVID-19 revisi 5. Saat ini istilah yang digunakan adalah kasus suspek, probable, konfirmasi, kontak erat, pelaku perjalanan, dan discarded. Manifestasi sakit ringan dapat berupa gejala non spesifik seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, malaise, sakit kepala dan nyeri otot;gejala di atas kurang jelas pada pasien usia lanjut dan immunocompromised. Sekitar 40% pasien akan mengalami sakit ringan, 40% mengalami penyakit sedang, 15% sakit berat dan 5% mengalami kondisi kritis. Gambaran klinis pada sistem saluran cerna dapat berupa gejala ringan seperti mual muntah dan diare, gejala dapat berdiri sendiri atau disertai dengan keluhan lain seperti myalgia, kelelahan dan keluhan saluran nafas. Gejala berat dapat berupa disfungsi hepar dan sepsis. Yang menarik adalah pasien COVID-19 dengan gejala saluran cerna, hasil pemeriksaan pada feces akan positif lebih lama walau pasien sudah tidak bergejala. Gejala gangguan pengecapan dan penciuman dapat menjadi gejala awal sebelum gejala lain timbul. Prevalensi gangguan pada penciuman sebesar 41% dan gangguan pengecapan adalah 38%, seluruhnya akan membaik dalam waktu 4 minggu setelah onset. Diperlukan kewaspadaan klinisi akan beragam gejala untuk dapat menegakkan diagnosis lebih dini sehingga pasien bisamendapatkan terapi lebih awal untuk meningkatkan prognosis hidup pasien.
Published
2022-02-18