DAMPAK KEPADATAN HUNIAN TERHADAP KETERBATASAN RUANG TERBUKA HIJAU DI LIO CIPAMOKOLAN KOTA BANDUNG

Main Article Content

Kania Nurlita Dewi
Destria Oktaviany
Zain Azmiy
Zakiyyah Putri Hanifah

Abstract

Kawasan Lio Cipamokolan, yang terletak di Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, merupakan salah satu wilayah permukiman padat dengan tingkat pertumbuhan hunian yang tinggi. Perkembangan permukiman yang tidak diimbangi dengan penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) mengakibatkan berbagai permasalahan lingkungan dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kepadatan hunian terhadap keterbatasan ruang terbuka hijau, serta mengidentifikasi implikasinya terhadap kualitas lingkungan, sosial, dan estetika kawasan. Metode penelitian yang digunakan meliputi observasi lapangan, analisis spasial, dan wawancara masyarakat lokal untuk memperoleh data terkait kondisi fisik dan sosial lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya kepadatan hunian di Lio Cipamokolan telah menyebabkan penurunan daya serap air tanah, meningkatnya suhu udara lokal (efek pulau panas), dan risiko banjir yang lebih tinggi. Dari aspek sosial, keterbatasan RTH mengurangi kualitas hidup warga karena minimnya ruang bermain dan interaksi sosial, sedangkan dari sisi estetika kota, dominasi bangunan padat tanpa vegetasi menurunkan nilai visual dan identitas kawasan. Kesimpulannya, perlu adanya strategi penataan lingkungan berbasis RTH mikro seperti taman gang, vegetasi vertikal, dan ruang komunal warga untuk meningkatkan kualitas hidup dan keseimbangan ekologi kawasan padat perkotaan

Article Details

How to Cite
Nurlita Dewi, K., Oktaviany, D., Azmiy, Z., & Hanifah, Z. P. (2026). DAMPAK KEPADATAN HUNIAN TERHADAP KETERBATASAN RUANG TERBUKA HIJAU DI LIO CIPAMOKOLAN KOTA BANDUNG. KREASI, 11(2), 253–266. https://doi.org/10.37715/kreasi.v11i2.6446
Section
Articles

References

Aly, S. H., Hustim, M., Selintung, M., Zakaria, R., Djamaluddin, I., & Putry, N. A. (2020). Sosialisasi dan perencanaan konsep green ruang terbuka hijau (RTH) pada pemukiman kumuh di Kelurahan Mario Kota Makassar. Jurnal Tepat: Teknologi Terapan untuk Pengabdian Masyarakat, 3(1), 58–70. https://doi.org/10.25042/jurnal_tepat.v3i1.101

Azra, A. A. (2024). Analisis sebaran ruang terbuka hijau (RTH) publik menggunakan metode sistem informasi geografis (SIG) di Kabupaten Sidoarjo. Elipsoida: Jurnal Geodesi dan Geomatika, 7(1), 1. https://doi.org/10.14710/elipsoida.2024.20098

Handayani, Y. S. (2022). Problema ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Jurnal Wilayah dan Kota, 9(1), 1–14. https://doi.org/10.34010/jwk.v9i01.6479

Hastuti, E., & Utami, T. (2008). Potensi ruang terbuka hijau dalam penyerapan CO₂ di permukiman: Studi kasus Perumnas Sarijadi Bandung dan Cirebon. Jurnal Permukiman, 3(2), 106–114. https://doi.org/10.31815/jp.2008.3.106-114

Kelo, J., Sarifuddin, S., Luthfiah, L., & Herniwati, A. (2019). Kajian penerapan tata ruang terbuka hijau pada lingkungan permukiman di Kota Palu. Ruang: Jurnal Arsitektur, 13(1), 13–21. https://doi.org/10.22487/ruang.v13i1%20Maret.61

Muhammad, F. R., Pratiwi, R. A., & Hutriani, I. W. (2024). Perencanaan ruang terbuka hijau berbasis ekologi dan sosial di Kampung 3-4 Ulu Laut, Kota Palembang. Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman, 6(2), 111–126. https://doi.org/10.20961/desa-kota.v6i2.79059.112-126

Pratama, I. A., Izharsyah, J. R., & Putri, H. M. (2022). Analisis perencanaan pembangunan program ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Medan. Jurnal Administrasi Publik dan Kebijakan (JAPK), 2(1), 1–12. https://doi.org/10.30596/japk.v2i1.10633

Rafly, M. E., Hartono, R., & Masitoh, F. (2024). Analisis hubungan kepadatan bangunan dan ruang terbuka hijau dengan humidex di sebagian surabaya timur menggunakan citra Sentinel-2 dan Landsat. Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, 4(12), 3. https://doi.org/10.17977/um063.v4.i12.2024.3

Santoso, E. B., Rahmadanita, A., & Ryandana, M. D. (2022). Ruang terbuka hijau di Kota Samarinda: Pencapaian, permasalahan, dan upayanya. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja, 48(1), 103–126. https://doi.org/10.33701/jipwp.v48i1.2828

Sidauruk, T. (2012). Kebutuhan ruang terbuka hijau di perkotaan. Jurnal Geografi, 4(2), 79–94. https://doi.org/10.24114/jg.v4i2.8070

Sitorus, S. R. P., Ashri, M., & Panuju, D. R. (2013). Analisis ketersediaan ruang terbuka hijau dan tingkat perkembangan wilayah di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, 15(2), 66–75. https://doi.org/10.29244/jitl.15.2.66-75

Susilowati, I., & Nurini, N. (2013). Konsep pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) pada permukiman kepadatan tinggi. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 9(4), 429–438. https://doi.org/10.14710/pwk.v9i4.6680

Utomo, P. K., Sari, D. P., Budiman, E., & Anggita, C. (2024). Penataan ruang terbuka hijau kawasan permukiman dengan pendekatan konsep biofilik. ANDIL Mulawarman Journal of Community Engagement, 1(2), 66–71. https://doi.org/10.30872/andil.v1i2.1307